Serba Serbi HUT TNI ke-79
Oke, kemarin sempat vakum menulis... maklum, ada beberapa kesibukan yang bikin "semangat" menulis agak tersendat. Tapi gapapa, akan gue lanjutin lagi menulis tentang hal-hal yang menurut gue menarik. Kemarin banget (5 Oktober 2024) gue menghadiri perayaan HUT TNI ke-79 di silang Monas. Tumben nih? sebenarnya nggak juga, soalnya gue sudah ikut perayaan ini semenjak tahun lalu (5 Oktober 2023) yang juga dilaksanakan di silang Monas. Tahun ini gue "hampir" aja lupa ada perayaan HUT TNI, tapi untungnya diingetin ama salah satu sohib gue dari S2 Sejarah angkatan 2021, namanya si Danang. Jadilah akhirnya gue memutuskan untuk datang pada HUT TNI pada tahun ini. Gue memastikan kalau jadwal gue di hari itu kosong dan mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan. Gue paham kalau gue akan berhadapan dengan cuaca panas yang menyengat, jadi gue memakai celana dan baju yang bahannya tipis dan tidak gelap. Gue juga membawa satu sling bag yang kecil tujuannya untuk menyimpan berbagai barang-barang esensial (charger HP, Powerbank, tisu dan berbagai printilan lainnya) bisa dibawa serta. Yang terakhir, gue memastikan menu sarapan yang "cukup" tapi tidak berlebihan; akhirnya gue "meracik" sendiri sandwich tuna + telor, supaya asupan protein di hari itu tercukupi.
Di hari-h, gue jalan agak pagi, sekitar jam 6.30. Alasannya ya supaya bisa ikutan upacara dan melihat prosesi acara dari awal (maklum, tahun lalu gue cuma bisa lihat "sisa-sisanya" doang karena datang jam 10.00). Nah, kali ini gue niat banget dan akhirnya gue mesen ojol supaya bisa cepat sampai di stasiun Univ. Pancasila. Singkat cerita, gue sampai di stasiun dan menyeberang menuju peron yang akan membawa gue ke arah Jakarta Kota. Kereta pertama datang dan.... gue shock berat karena ini kereta datang dengan kapasitas penuh. Seingat gue, kereta kapasitas penuh lumrahnya hanya ada di waktu weekdays, utamanya karena banyak pekerja kantoran yang pergi ke arah Jakarta. Karena keburu bingung duluan, akhirnya gue biarin deh itu kereta dan menunggu kereta lainnya datang. Ketika kereta selanjutnya datang, gue masih kaget karena ini kereta juga penuh. Apa boleh buat, akhirnya gue memutuskan naik karena kalau ditunggu lagi, maka gue akan ketinggalan prosesi acara yang penting. Alhamdulillahnya, gue mendapatkan tempat yang cukup nyaman dan kereta melaju tanpa ada problem berarti.
Ketika kereta sedang berhenti di stasiun Manggarai, naiklah seorang pemuda dan ibu-ibu (gue asumsikan ini ibunya karena mereka berbicara akrab tapi "sopan"). Dari pembicaraan mereka berdua, gue tau kalau mereka akan melaju ke arah Monas juga. Jiwa-jiwa "tukang ngobrol" gue meronta-ronta melihat ini dan akhirnya gue beranikan untuk SKSD dan bertanya, "Loh, masnya mau ke arah Monas juga ya? kalau kesana enaknya turun dimana ya?". Dari sinilah kemudian pembicaraan bergulir dengan mudah. Dari pembicaraan ini, satu penumpang lain malah ikutan "nimbrung" dan menyarankan gue supaya turun di Stasiun Gondangdia saja. Katanya sih, kalau turun di Gondangdia bakalan lebih "asri" dan nyaman daripada turun di Juanda. Gue manggut-manggut dan akhirnya turun di Stasiun Gondangdia. Setelah sampai di Gondangdia, gue mikir cukup keras untuk bisa jalan ke Monas. Untungnya, ada Satpam yang selalu siap sedia untuk ditanya-tanya soal apapun, termasuk jalan menuju Monas. Dan untungnya (lagi) rombongan orang yang menuju Monas juga lumayan ramai; jadilah gue "ngekor" mereka sampai Monas.
Situasi mendekati Monas cukup "chaos" karena banyak warga yang berjalan kaki menuju Monas dan memarkir kendaraan mereka di bahu jalan + pinggir jalan secara sembarangan. Disinilah gue merasakan keruwetan acara di pusat kota; jalanan yang harusnya lancar menjadi macet karena orang tumpah ruah dan memarkir kendaraannya serampangan. Ketika akhirnya gue sampai di Monas, gue "kaget" lagi karena ternyata pengunjung yang datang sudah melimpah ruah. Sepertinya gue "terlambat" seperti tahun lalu. Tapi tidak juga, ternyata upacara baru saja dimulai. Karena masyarakat yang datang sudah banyak sekali, akhirnya gue cuma kebagian lihat kepalanya doang hahaha. Setelah prosesi upacara usai, muncul masalah baru; sinyal hape yang tadinya masih ada, tiba-tiba menjadi hilang total. Celaka, gue langsung pusing karena tidak bisa mengetahui bagaimana caranya menghubungi teman gue. Rencana jalan juga sudah disusun bersama, namun apa boleh buat; karena komunikasi tidak berjalan semestinya, akhirnya gue memutuskan jalan-jalan keliling Monas dan muter-muter sendirian. Apakah gue merasa sedih karena ngga bertemu dengan teman? sudah pasti. Tapi di saat bersamaan gue menemukan banyak hal yang menyenangkan. Dari hasil muter-muter ini gue mendapatkan beberapa foto dengan anggota TNI dari berbagai matra dengan seragam yang berbeda-beda pula.




Comments
Post a Comment